Polemik RUU Pilkada dalam Pandanganku
Mo nulis soal politik lagi.
Gatel dan gerah lihat timeline penuh dengan berita tentang pembahasan RUU yang salah satu intinya adalah pemilihan kepala daerah oleh anggota legislatif (DPRD). Dengan demikian berarti pilkada langsung, dimana rakyat ikut memilih akan diganti pemilihan kepala daerah oleh DPRD. Euuuh....langsung deh beranda ramai dengan segala kontroversinya. Saya lihat hampir semua kalangan menolak RUU tersebut, kecuali yaa....pengusulnya. Koalisi merah putih, antara lain nih Gerindra, PKS, PAN, PPP. Wagub DKI Jakarta Ahok sepertinya orang yang paling lantang menolak RUU tersebut bahkan beliau langsung mengajukan pengunduran diri kepada Partai Pengusungnya saat pilgub kemarin : Gerindra. Hebat dan salut, jempol para netizen langsung terarah pada Pak Wagub yang sebentar lagi akan menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Pak Jokowi yang dilantik menjadi RI 1.
Tindakan Ahok ini juga mendapat dukungan dari kepala daerah seluruh indonesia. Para bupati dan wali kota yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) dan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) menolak tegas pilkada oleh DPRD.
Saya termasuk yang menolak RUU tersebut. Artinya saya lebih memilih pilkada langsung. Alasannya sangat sederhana : Karena saya tidak percaya lagi dengan anggota dewan yang terhormat itu. Yang katanya pas kampanye akan memperjuangkan rakyat, ketika sudah menjabat ya sama saja lupa dengan pemilihnya. Tolong kalau ada yang bisa kasih contoh berita baik tentang anggota dewan tolong di share... Bukan berita anggota dewan tidur saat rapat, banyak yang tidak datang, pelesir kemana-mana, bahkan nonton video porno. Tolong kalau ada anggota dewan yang benar2 memperjuangkan suara rakyat, beritakan, beberkan, biar masyarakat juga tidak skeptis dengan bapak ibu anggota dewan yang terhormat.
Bagaimana kami bisa mempercayai mereka memilihkan pemimpin yang terbaik bagi kami? Bagaimana kami bisa percaya mereka memilih bukan berdasar besarnya upeti yang disodorkan tapi berdasar kemampuan dan kapasitas? Bagaimana kami bisa percaya pemimpin pilihan mereka itu lebih mengutamakan kami rakyatnya dibanding memikirkan ucapan terimakasih apa yang sebaiknya diberikan kepada bapak ibu dewan yang memilihnya?
Saya sampai tidak habis pikir, mungkin pikiran saya terlalu cupet, terlalu sempit memahami hal ini. Mengapa elit2 koalisi itu bersikeras mengajukan RUU ini. Berbagai alasan mereka kemukakan terutama penghematan anggaran dan kembali pada Pancasila sila keempat.
saking herannya, saya sampai berdiskusi dengan teman saya lewat chat fb, karena saya lihat dia sepertinya menolak pilkada langsung. Saya minta penjelasan dari dia, dan jawabannya ya berkutat antara minimalisasi money politics serta kembali pada Pancasila sila keempat :Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Pada akhir diskusi yang harus terputus karena Jumatan, saya menyampaikan bahwa dia mengabaikan kenyataan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia TERLANJUR KECEWA DAN TIDAK PERCAYA pada anggota dewan yang terhormat. Dan jika memang mau pilkada tidak langsung, poinnya adalah bagaimana caranya kita bisa mendapatkan wakil rakyat yang benar2 berkualitas dan membawa suara rakyat.
Nah, pandangan politik saya cukup sekian. Berikutnya saya mau cerita. Abaikan paragraf di bawah saya kalau ada yang simpatisan atau kader koalisi merah putih. Soalnya ini rada sensi :p
Oke...menurut saya, koalisi merah putih yang mendukung banget pilkada oleh DPRD itu sedang dalam usaha balik modal mengingat pileg pilpres kemarin sudah keluar dana yang begitu besar...... trus kalah pula! Kalau bisa DPRD memilih kepala2 daerah, ya kan pastinya adalah ucapan terimakasih yang mengalir masuk ke kantong anggota DPRD, sebagian juga disetorkan ke partai pengusung anggota dewan tersebut. Atau mau besar-besaran upeti. Kalau bahasa gaulnya : WANI PIRO koe??? Bupati.....sekian T, Gubernur.... sekian puluh T.... Malah kaya lelang. Yang berani bayar paling mahal yang menang.
Sudahlah.....kalian sungguh mengecewakan kader dan simpatisan akar rumput kalian dengan menolak pilkada langsung...
Dan tindakan kalian ngata-ngatain pak Ahok yang anak durhakalah, kutu loncatlah, tidak tau etika lah... justru membuat rakyat semakin kehilangan simpati pada partai kalian.
Ahhh... sudahlah.... Fakta apa lagi yang akan kalian putarbalikkan? Pemimpin2 fenomenal seperti Jokowi Ahok, Bu Risma, Ridwan Kamil juga produk pilkada langsung kan? Oh, saya lupa, bagi kalian, itu semua cuma pencitraan...
Comments
Post a Comment