Staycation and The Reason Behind
A staycation (from"stay" and "vacation"), also known as a holistay (from "holiday" and "stay"),
is a period in which an individual or family stays home and
participates in leisure activities within driving distance, sleeping in
their own beds at night. They might make day trips to local tourist
sites, swimming venues, or engage in fun activities such as horseback
riding, paintball, hiking or visiting museums. Most of the time it
involves dining out more frequently than usual (Wikipedia).
Secara singkat, staycation dapat diartikan menghabiskan liburan di rumah dengan melakukan aktivitas lokal atau mengunjungi tempat wisata di sekitarnya tanpa pergi keluar kota. Nah, kalau menurut saya, saat ini, staycation lebih cenderung diartikan "liburan di hotel" atau "pindah tidur di hotel". Jadi misalnya saya yang punya rumah di Sleman kemudian menginap di salah satu hotel di Kota Jogja, menghabiskan waktu seharian hanya di hotel, berenang atau sekedar jalan-jalan di sekitar hotel, bagi saya itu sudah termasuk Staycation.
Saya memang suka menginap di hotel. Bagi saya, menginap di hotel itu merupakan simbol kebebasan yang nikmat senikmat - nikmatnya. Kasur empuk, AC yang dingin, mau bangun siang tak masalah, kamar berantakan ditinggal pergi nanti sudah ada yang merapikan, sarapan pagi lengkap sudah tersedia. Salah satu hal utama yang bikin saya suka tidur di hotel itu adalah mandi pun dimanjakan dengan at least shower air panas... (remeh sih yak, tapi kalau di rumah mau mandi air panas harus ngerebus dulu jadinya kan repot banget). Syukur-syukur ada bathubnya jadi bisa kungkum air anget. That’s the best part!
Secara singkat, staycation dapat diartikan menghabiskan liburan di rumah dengan melakukan aktivitas lokal atau mengunjungi tempat wisata di sekitarnya tanpa pergi keluar kota. Nah, kalau menurut saya, saat ini, staycation lebih cenderung diartikan "liburan di hotel" atau "pindah tidur di hotel". Jadi misalnya saya yang punya rumah di Sleman kemudian menginap di salah satu hotel di Kota Jogja, menghabiskan waktu seharian hanya di hotel, berenang atau sekedar jalan-jalan di sekitar hotel, bagi saya itu sudah termasuk Staycation.
Saya memang suka menginap di hotel. Bagi saya, menginap di hotel itu merupakan simbol kebebasan yang nikmat senikmat - nikmatnya. Kasur empuk, AC yang dingin, mau bangun siang tak masalah, kamar berantakan ditinggal pergi nanti sudah ada yang merapikan, sarapan pagi lengkap sudah tersedia. Salah satu hal utama yang bikin saya suka tidur di hotel itu adalah mandi pun dimanjakan dengan at least shower air panas... (remeh sih yak, tapi kalau di rumah mau mandi air panas harus ngerebus dulu jadinya kan repot banget). Syukur-syukur ada bathubnya jadi bisa kungkum air anget. That’s the best part!
Throw back, dulu jaman saya
kecil, sangat jarang bisa merasakan menginap di hotel. Jika menginap di hotel
itu pun cuma ketika : piknik sekolah, atau piknik guru SMP dimana Bapak saya
mengajar. Piknik rombongan seperti itu, sejauh yang saya ingat saat SMP dulu
pergi ke Bali, kemudian SMA pergi ke Surabaya, Jawa Timur. Hotelnya sangaaaat
sederhana. Piknik ke Bali jaman SMP itu, satu kamar bisa diisi hingga 8 orang,
ya pokoknya asal ada kasur untuk tidur itu sudah cukup. Piknik jaman SMA juga
tidak jauh lebih baik. Kami menginap di Asrama Haji. Ya bisa dibayangkanlah
kondisi hotel dan kamarnya seperti apa, sarapannya juga seperti apa. Sepertinya
setara dengan hotel – hotel melati. Dan memang orangtua saya bukan tipe yang
suka mengajak anak-anaknya piknik berhari-hari sampai harus menginap di hotel.
Mereka masih konvensional, piknik ya rombongan teman-teman kantor atau RT,
pergi pagi pulang malamnya. Saya memahami juga sih kondisi keuangan orangtua
saya saat itu, bukan orang kaya, bahkan harus ngirit sana ngirit sini sekedar
untuk menyekolahkan saya.
Jaman kuliah pun saya bukan
mahasiswa yang aktif ikut seminar sana sini. Saya cuma ndekem di kost,
jalan-jalan pacaran, lulus dan begitulah saya tidak pernah masuk hotel apalagi
hotel berbintang. Pengalaman pertama saya masuk hotel berbintang itu ketika
pertama kali bekerja di PT XX di Medan. Sampai di Medan saya diberi kamar di
Hotel Novotel Medan. Bintang 4 dengan rate yang bikin saya shock! Published
rate nya Hampir 900.000... Buseeet uang segitu banyak Cuma buat pindah tidur??
Saat itu pertama kalinya saya merasa eman-eman kalau harus mengeluarkan uang
segitu banyak hanya untuk tidur di hotel. Namun kemudian saya menyadari harga
tersebut pantas saya bayar untuk fasilitas yang saya dapatkan. Mandi air panas
di bathub, sarapan dengan begitu banyak menu sampai saya kekenyangan, kolam
renang, dll. Untuk pertama kalinya saya berpikir wah enak banget ya tidur di
hotel :p
Bathub, kemewahan hqq buat saya :p apalagi sekarang jaraaang banget hotel yang pake bathub kecuali hotel bintang 5
Kemudian saya bekerja di Pemda
yang mana sering mengadakan acara pertemuan di hotel, saya semakin sering main
ke hotel. Juga termasuk menghadiri undangan – undangan di luar kota yang
mengharuskan saya menginap di hotel for free (karena dibayarin APBD/N) :p Tidak
terlalu banyak sih, list hotel yang saya sudah pernah kunjungi :p Tapi Hotel
paling mewah yang pernah saya kunjungi adalah Melia Bali. Kamarnya luaaaas
sekali dengan teras yang nyambung ke kolam renang. Kalau yang sekelas ini
dengan biaya pribadi kayanya saya nggak bakal sanggup :p Pada saat ini
sebenarnya keuangan orangtua saya sudah cukup baik, tapi mereka tetap saja
konvensional, jarang mau diajak liburan yang menginap di hotel. Katanya sudah
cukup sering menginap di hotel kalau ada acara kantor saja :D dan malah nggak
bisa tidur kalau menginap di hotel :p
Nah, ini yang beda sama saya.
Kalau buat saya, menginap di hotel dalam rangka dinas / pekerjaan pasti rasanya
berbeda dengan menginap di hotel untuk keperluan pribadi. Seringnya jika dalam
rangka dinas kita pasti sharing kamar dengan rekan kerja. Kalau untuk saya, itu
agak mengurangi kenyamanan, ya tidak bisa bebas sebebas-bebasnya kan, tetap
saja ada orang lain dalam satu kamar. Belum lagi jika acara yang kita hadiri
jadwalnya cukup padat, kita harus bangun jam sekian, jam sekian sarapan, jam
sekian sudah mulai acara, jam sekian harus check out, dll. Mau bangun dan
sarapan agak siang, ternyata teman sekamar sudah rapi nungguin kita untuk
sarapan. Hihihi gak enak banget kan...
Untungnya saya menikah dengan
seorang Danang Aryo, yang sekarang jadi Ayahnya Suluh :D Somehow dia juga sama
malasnya dengan saya dan bisa mengakomodir keinginan foya – foya saya termasuk
keinginan untuk menginap di hotel secara pribadi. Jadilah kami berdua hobi
pindah tidur ke hotel, walaupun enggak sering – sering banget sih :p
Baca : Staycation di Lor In Hotel
Baca : Staycation di Lor In Hotel
Apakah ini suatu bentuk kemewahan
dan foya – foya? Untuk orangtua saya jelas IYA! Lha wong punya rumah di Jogja,
trus ngapain pindah tidur dan bayar mahal ke HOTEL?? Buat kami berdua... jelas
TIDAK! Wong sudah diniati ini salah satu bentuk piknik untuk melepas kepenatan
yang paling gampang dan murah juga (bila dibandingkan piknik keluar kota yang
pasti keluar biaya transport). Lagian menurut kami, staycation kami di hotel
juga enggak boros-boros amat :p Kami masih rasional, mencari hotel dengan
budget terendah tapi memiliki fasilitas maksimal, hihihi... Di atas 500 ribu,
sudah too much for us.
Sekarang, dengan adanya Suluh,
kriteria hotel yang mau kami datangi semakin mengerucut.
- Harus ada kolam renang, karena Suluh lagi seneng-senengnya renang;
- Kamar nggak boleh sempit – sempit nanti nggak bisa lari-larian di kamar (Ini susah ya, hotel jaman now kan semakin sempit minimalis);
- Include sarapan, biar nggak repot pagi2 cari makan, apalagi hotel bintang 4 pasti sarapannya bisa macem-macem (ini saya aja yang demen sarapan di hotel);
- Lumayan instagramable biar nggak plain-plain banget saat foto – foto (ini juga saya yang seneng).
- Kalau Ayahnya Suluh sih yang penting kamarnya terang, yang artinya wajib ada jendela. Karena pernah, pas ke Bali kemarin kami booking hotel bintang 4 cuma dengan harga 300.000. Sampai disana, ternyata kamar 300.000 itu tidak ada jendelanya T_T. Ada sih, tapi nggak bisa dibuka karena sudah dibangun tembok. Jadi penerangan saat siang haripun harus pake lampu. Saya sebenernya nggak terlalu masalah, tapi buat Ayahnya Suluh itu jadi masalah besar. Karena dia ada semacam phobia ruang sempit gitu, sampai sesak nafas katanya. Akhirnya kami upgrade kamar nambah 75.000 per malam. Hahaha, ga jadi dapat murah deh :p.
Nah, sayangnya... hotel dengan
kriteria segitu banyak dengan budget yang kami tentukan itu tidak banyak,
hohoho... Jadi, ujung-ujungnya ya nginep di situ situ aja :D Sebenernya banyak
yang pengen dicobain, tapi lagi – lagi dihalangi budget, apalagi dengan saya
yang masih kuliah begini T_T Ngarepnya sih dapat gratisan nginep hotel, atau
potongan harga 50% dari kuis atau giveaway atau undian :p tapi sayangnya saya dan suami termasuk orang yang
kurang beruntung dengan undian dan kuis2 begitu :p
Walaupun kurang beruntung dalam hal kuis dan undian, tapi kami meyakini rejeki kami sudah diatur dengan cara yang lain. Salah satunya adalah, kadangkala kami mendapat kamar gratis karena ada sisa kamar dari sebuah acara yang diselenggarakan di hotel. Untuk pegawai negeri, sering banget kan ya sudah booking dan membayar sejumlah kamar hotel untuk meeting, ternyata pesertanya banyak yang tidak datang. Jadilah ada sisa kamar yang tidak ditempati. Daripada mubazir akhirnya kamar tersebut dihibahkan, bisa ke keluarga panitia, atau siapapun lah. Mending ya dihibahkan, daripada dijual lagi terus uangnya masuk kantong pribadi? :p Salah satunya kami beruntung bisa menginap di Hotel Melia Purosani. Kalau ada yang bilang enak ya PNS bisa tidur hotel gratis, ya kalau kasusnya kaya pas di hotel Melia ini enak juga karena bukan panitia, bukan peserta, tapi tiba2 ditawari kamar gratis. Kalau sebagai peserta ya biasa aja, balik lagi seperti saya bilang di atas... Sebagai peserta berarti malah gak bisa santai - santai karena ada tanggungjawab yang harus diselesaikan :D Kalau buat saya sih, paling enak tidur di hotel itu kalau sama suami dan anak tercinta :)
Rejeki nomplok nginep gratis di Hotel Bintang 5 Melia Purosani.
Sampai saat ini kami
masih konvensional kalau mau staycation. Saya masih sibuk membandingkan beberapa macam OTA
: Pegi Pegi, Traveloka, Tiket.com, Mister Aladin untuk mencari harga termurah. Cari
promo sana sini, ditambah kami Belum punya Kartu Kredit :( jadi kami belum bisa dapat
keuntungan dari diskonan kartu kredit. But We Won’t STOP Here!!! Staycation jalan
terus, Jalan – jalan dan Piknik we’ll never stop! Semoga dicukupkan rejekinya, Amin :)




Comments
Post a Comment