Labour & Delivery - Part 2

Selasa, 8 September 2015, jam 8 pagi kembali kami telpon taksi untuk berangkat ke Panti Rapih. Ayah izin tidak berangkat ngantor. Uti Salatiga sudah dikabari, pagi ini juga langsung berangkat ke Jogja. Kung Salatiga nyusul agak siang karena ada jadwal ngajar. 

Pagi itu ruang observasi di Gedung Bersalin Carolus sudah sepi. Hanya ada 2 orang termasuk Mamah. Mungkin semalam sudah banyak yang melahirkan, hehehee....
Oya, pagi itu kontraksi masih beberapa kali Mamah rasakan, tapi jeda waktunya lama sekali. Sejam sekali mungkin ya...

Sembari menunggu rekam jantung, Mamah dan Ayah mengisi beberapa formulir untuk persalinan. Termasuk memilih kamar. Entah namanya beruntung atau apes ya, Kamar kelas 1 dan 2 penuh semua. Tinggal 1 kamar VIP itupun masih berpenghuni, dan baru rencana pulang sore nanti. Yasudahlah akhirnya kita ambil kamar VIP tersebut, daripada nggak dapat kamar kan? 

Rekam jantung hasilnya baik. Jam 10  pagi Uti Salatiga datang, jam 11 dapat makan siang, langsung lhap lhep. Dokter Lusi visit dan bilang obatnya enggak jadi dilewatkan vagina, tapi per oral saja. Yes!!! Habis makan minum obat induksi. Misoprostol kalau nggak salah, cuma seperempat butir. 
Kontraksi mulai kerasa intens.... tapi masih kuat jalan-jalan, naik turun tangga, jalan ke lantai 4, kalau pas kontraksi berenti jalan dan minta peluk Ayah, atau goyang-goyang pinggul.
Ayah selalu mengingatkan latian nafas untuk mengalihkan rasa sakit. 
 
Goyang - goyang saat kontraksi... dansa sama suami juga boleeeeeh...
 
Jam empat disuruh mandi sama susterny biar seger. Kamar mandi di ruang observasi kan sempit banget. Nggak nyaman... apalagi kalo pas kontraksinya datang, sampai jingkat jingkat pegangan besi.
Jam lima, VT lagi, belum ada pembukaan, tapi mulut rahim sudah lunak sekali. Minum seperempat obat yang kedua. Kata dokter, semoga habis ini langsung mbuka.
Kata Uti, wes jangan lama-lama, nanti jam 10 udah lahir ya...

Dan dikabari kamar kami sudah siap. Kami pun pindahan ke kamar, yang ternyata luaaaaas banget. Ada tempat tidur tambahan untuk penunggu, dan ada 2 sofa kecil. Wih, VIP gitu!
Mulai jam 6 sore, kontraksi makin dahsyatt....sepertinya hampir ga berjeda. Mamah udah ga mau jalan-jalan keluar kamar. Pengen banget tidur, tapi sakitnya bikin ga bisa tidur. Ayah terus-terusan mengingatkan untuk praktek olah nafas ketika kontraksi datang. Nggak mudah ternyata!! Tubuh masih cenderung menolak rasa sakit yang datang. Beberapa kali diingatkan suster yang memeriksa, "jangan tegang mbak, ini kan rasa sakit yang ditunggu. Tiap kerasa sakit, berarti bentar lagi ketemu adek lho... " 

Jam 7, jam 8 malam udah cuma tiduran aja, kadang ga ketahan untuk teriak, dan Ayah langsung datang memeluk. Kadang gantian  sama Uti salatiga, ikut elus2 bagian pinggang....
Ayah masih setia mengingatkan untuk relaksasi dengan nafas tiap kali kontraksi datang.
Nah, kalau susternya datang untuk periksa, Mamah sih pencitraan, ga teriak2, sok rileks gitu :p  Malu kan ya, kalo ketauan sama suster teriak2 kesakitan :p 

Jam 21.30 saatnya cek VT lagi, pas itu sakitnya udah ga nahan, dan sempat kerasa pengen pup.
Ternyata sudah bukaan 6! Suster yang VT langsung ngasih perintah untuk pindah ke kamar bersalin. Mamah sudah ga boleh jalan sendiri, jadi dibawain kursi roda.
Wow, is it the time? Bukannya bukaan 6 ke 10 itu masih lama ya? Kok susternya kaya panik gitu??
Dan Mamah tiba juga di kamar bersalin untuk pasien VIP. Ada TV nya lhooo... mungkin sambil nunggu bukaan lengkap bisa sambil nonton tivi :p

Ayah ikut masuk ke ruang bersalin, sementara Uti menunggu di dalam ruang bersalin juga sih, tapi dipisahkan tirai sama tempat tidur Mamah. Kung nggak boleh masuk, karena sepertinya cuma boleh 2 orang penunggu di dalam kamar bersalin.
Rasanya saat itu pengen ngeden, kaya mau BAB gituuu.... bener2 ada dorongan untuk mengeluarkan sesuatu dari tubuh bagian bawah.

Sama susternya cuma disuruh nafas kaya orang kalo kepedesan. Sambil buka mulut dan bilang Haaah....haaaah....haaaah gitu....
Beberapa kali teriak, "Susteeeer..... udah pengen ngeden!!!!" Percuma juga sih, cuma dijawab, "Belum boleh bu, nafas dulu yaa...hahh...haaah gitu..."
Seingat Mamah, waktu itu Mamah masih sempat mencoba senyum diantara rasa pengen ngeden itu. Beberapa saat kemudian dokter Lusi datang, kemudian VT, dan tiba2 dibilang, "sudah lengkap ini, mengejan ya kalau pas kontraksi. Ikut senam kan? Bisa ya..."

Eeeeghhh..... Mamah membayangkan saja mau BAB tapi keras banget. Kata dokternya sih ngedennya Mamah sudah bagus. Dalam satu kontraksi, bisa sampai tiga kali ngeden.
Oya, penting banget lho bawa minuman ke dalam kamar bersalin. Karena mengejan itu butuh banyak tenaga, dan bakal kerasa haus. Kemarin cuma ada air mineral sih, tapi sangat-sangat membantu, karena Mamah bawaane haus terus setelah  ngeden. Jadi pas ga ada kontraksi, bisa istirahat sambil minum.
Kalau tidak salah, pada kontraksi yang ketiga, dokter bilang kepalanya sudah kelihatan, dan salah satu suster menyuntikkan sesuatu di paha kiri Mamah, katanya biar kontraksinya kuat. Ayah selalu mengingatkan Mamah untuk tetep melek selama mengejan.
Dan pada kontraksi yang keempat, disertai sensasi terbakar di bawah sana, Dokter Lusi menarik keluar anak kami.
And She wasn't crying loud!!!! Dan kata Ayah dia kelilit tali pusat...
Suster-suster segera membawa anak kami ke dalam box berlampu untuk dibersihkan dan dihangatkan. Dan dengan terpaksa, IMD tidak bisa dilakukan karena anak kami dinilai kurang bugar.
Ayah nggak berhenti mencium kening Mamah sementara dokter Lusi menyelesaikan pekerjaan yang tersisa: mengeluarkan plasenta dan jahit-menjahit.

 
Saat dipasang selang oksigen dan dihangatkan dengan lampu...
 
 
 Close up!

Kakak Bayi kami sempat dipasang selang oksigen, dihangatkan dalam box berlampu sebelum akhirnya diserahkan pada Mamah untuk nenen perdana. Dan dia pinter banget, langsung bisa nenen.
Uti dan Ayah sempat foto Kakak bayi yang masih dalam box. Sempat lihat telapak kaki dan tangannya kisut, putih pucat dan kulitnnya mengelupas. Kata suster itu karena kelamaan di dalam...
Anyway, Puji Tuhan Kakak Bayi sudah lahir dengan selamat. Mamah juga kondisinya baik selama dan setelah persalinan. Di ruang bersalin itu, dari bukaan 6 sampai Kakak bayi lahir, cuma sekitar satu jam. Wong VT terakhir itu jam 21.30, kemudian Kakak bayi lahir itu 22.35.  
  
Nenen perdana....
 
Puji Tuhan, Selamat datang putri pertama kami, Kakak Bayi : Suluh Hayu Ardyani. 

Btw, setelah persalinan, rasanya lapar banget lho! Udah gitu kaki gemetar... bahkan sempat kram...
Mamah masih beberapa lama di kamar bersalin, sementara uti dan kung balik ke kamar untuk istirahat. Ayah sibuk mengurus administrasi kelahiran Suluh.
Kalau ga salah jam 2 malam baru Mamah dibawa kembali ke kamar, dan Suluh menyusul dibawa ke kamar kami. Yup! Rooming in...

Welcome to the World, our precious daughter, be tough!!! 
Pertama kali digendong Ayah


  
Setelah mandi perdana, hari berikutnya, sore hari.

Note: akhirnya dipublish setelah Suluh umur 5 bulan lebih 2 minggu :p

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kurang dari Dua Minggu

Kurang dari Sebulan

Kostum Kami