My Dream Wedding

Mungkin sudah telat ya posting tentang pernikahan impian saya saat hari pernikahan tinggal kurang dari dua bulan lagi :)
Tapi bagaimanapun saya pengen sharing apa yang saya pengen dulu dan yang sekarang akan saya jalani.
Yang pertama wajar kan, jika seorang calon pengantin ingin tampil all out pada hari besarnya? Rias manten terbaik, catering terenak, dekor terindah, dokumentasi yang paling memorable dll segala macam printilan yang membuat calon pengantin bisa stres :p
Saya juga demikian, pengen semuanya yang terbaik, pengen pas hari H semua tamu terkagum-kagum, baik rias yang manglingi, katering yang enak, dan juga tempat resepsi yang nyaman. Pokoknya semua pengen sesempurna mungkin, jangan sampai ada rasan-rasan yang tidak mengenakkan di belakang. 

Time goes by, dan saya serta tunangan memutuskan untuk menikah. Yang pertama panik adalah Ibu saya.
Kemudian hal pertama yang saya sadari adalah, Pesta Pernikahan adalah milik orang tua. Bapak Ibu saya lah yang punya gawe, mantu pertama. Jadi ya memang Mamah saya langsung mengeset semua vendor, termasuk beberapa hal yang tidak bisa diganggu gugat seperti lokasi resepsi dan kewajiban pakai acara adat "panggih" di gedung.
 Memang ada sedikit perbedaan pendapat, namun ternyata setelah saya renungkan, apa yang menjadi pilihan orang tua itu juga baik adanya. Tidak bisa juga berpikiran "Kan saya yang mau nikah, jadi semuanya ya sesuai keinginan saya"..... karena orang tua juga menginginkan yang terbaik untuk anak mereka, dan mereka juga yang punya gawe, mereka juga tidak mau mendengar rasan-rasan jelek juga di belakang, sama juga kan seperti saya :) Jadi ya mari kita ambil jalan tengah, yang semua pihak bisa menerima. Nyatanya mamah saya tetap menyerahkan beberapa tanggung jawab kepada saya. 

Saya masih ingat perkataan Mamah yang sangat membekas dulu kala ketika saya baru saja mulai bekerja di Jogja. Kata mamah, "Perempuan memang harus juga bekerja. Saat seperti ini tidak bisa hanya mengandalkan suami saja. Kita juga perlu punya penghasilan sendiri. Apalagi kamu, mulailah menabung, jadi besok ketika mau nikah, dan kamu punya keinginan, misal pengen rias yang paling bagus, kamu bisa wujudkan keinginanmu itu dengan uangmu sendiri." Dan sampai sekarang Mamah masih memegang perkataannya itu. Beliau memberikan tanggung jawab kepada saya untuk memilih undangan, souvenir dan dokumentasi. Untuk ketiga vendor tersebut saya dan Mas bertanggungjawab penuh, mulai dari pembuatan desain, pemesanan sampai pembayarannya.
Lalu, saya bahas satu - satu ya, pernikahan impian saya :
  1. Rias : Paes Ageng Jogja, tapi tidak pakai dodot basahan, jadi pakai kebaya saja. Untuk vendor dari awal Mamah sudah menentukan Bu Yayuk Suprapto dan saya setuju saja karena memang sudah banyak testimoni bahwa riasannya Bu Yayuk itu manglingi. Dan yang paling penting, beliau juga seorang Katolik jadi sudah paham tata cara pemberkatan nikah di Gereja.
  2. Foto Prewedding : Dulu jujur ya pengen foto yang cantik pakai kostum yang indah pake vendor yang sip dan dipasang di undangan. Sekarang, cukup difoto sama adek2ku, pakai kostum kasual dan di tempat yang tidak biasa. More than enough : kami sudah dapat foto untuk undangan, untuk yang dicetak besar sedang dalam proses editing, dan sisanya bisa dimasukkan di wedding website. Murah meriah dan mengakrabkan Mas dengan adik2 saya :)
  3. Gedung Resepsi : Aula Wisma Kasih Sinode merupakan pilihan Mamah dari dulu dengan alasan dekat dengan gereja, dan tidak terlalu jauh dari rumah. Bisa dijangkau dengan angkot, terutama untuk tetangga sekitar rumah yang tidak bawa kendaraan sendiri. Padahal kapasitasnya hanya 500 orang. Sementara undangan kami 700 buah. Memang biasanya menambah tenda di luar gedung sehingga kapasitas bisa jadi 750 orang. Padahal di Salatiga ada dua gedung yang kapasitasnya lebih besar yaitu Makutarama dan Gedung Dinas Perkebunan. Tapi keduanya cukup jauh dan susah dijangkau dengan angkot. Jadi ya sudahlah, ikut Mamah saja :) 
  4. Seserahan, pengen belanja sendiri dan dihias secantik mungkin, kalau di Jogja, udah saya bawa itu seserahan ke Kado Kita :p Lha wong beli wadahnya saja dibela-belain sampai Mayestik, Jakarta :p biar bisa tampil beda dengan hantaran seserahan yang lain.  Namun ternyata Mas punya sahabat yang ahli urusan hias-menghias, jadi sebagian seserahan saya bakal dihias temennya Mas. Tapi tetep pengen ada dua atau tiga seserahan yang dihias vendor, terutama untuk benda - benda rohani, saya pengen pakai tutup mika sehingga bisa dibuka tutup. Mungkin bakal saya hiaskan di Jammakcraft, Solo :) Dan yang paling membahagiakan buat saya adalah responnya Mas ketika saya bilang pengen ada beberapa hantaran yang dihias di vendor : "Yaudah besok Sabtu kita kesana" straight to the point without asking the price :)) He just said : "Sejauh aku mengenalmu, jalukanmu ki selalu logis, jadi aku ndak khawatir" Huweeee..... melting langsung :p
  5. Foto / Dokumentasi sudah pernah dibahas di SINI
  6. Catering : ikut pilihan Mamah, yang penting ada selat solo :p
  7. Souvenir : sudah banyak di bahas di SINI dan di SINI juga. Berhubung Mamah memang telaten dan suka tanaman, maka Mamah yang banyak berperan dalam perawatan baby-baby anthurium gelombang cinta itu. Saya dan mas tugasnya mencarikan pot, memesan packaging, dan mencarikan kaktus/sukulen sebagai tambahan.
  8. Wedding Theme Colour : Hijau tentu saja :D tapi gak saklek juga.  Berhubung susah cari warna hijau toska buat seragam bulik - bulik, maka jadinya seragam hijaunya warni. Baca post nya di SINI dan di SINI yaa :D
Sepertinya itu aja sih dream wedding saya. Gak terlalu neko - neko kan? Gak harus pakai photo booth di tempat resepsi, pakai scrapbook foto-foto kenangan kedua mempelai, harus outdoor wedding, harus gini harus gitu. Huffft...
So, Danang Aryo, kamu gak perlu khawatir kan tidak bisa memenuhi dream wedding saya?  So far, you've done your best for us, dear :) I love you ^__^

Comments

Popular posts from this blog

Kurang dari Dua Minggu

Kurang dari Sebulan

Kostum Kami